Waspadai Penggunaan Antibiotika Berlebih

Written by fajarqimi

Topics: Penyakit Dalam

Jika Pembaca baru berkunjung, mungkin anda ingin berlangganan GRATIS RSS feed atau dengan Email untuk mendapatkan artikel kesehatan terbaru. Thanks for visiting!

Hampir semua orang pernah menggunakan antibiotika saat sakit. Baik dalam bentuk tablet, sirup maupun obat oles. Sejatinya, antibiotika telah 70 tahun lebih digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri seperti misalnya flu, radang atau bahkan penyakit serius yang membahayakan. Selain mudah didapat, penggunaan antibiotika ini juga sangat memudahkan seseorang yang mengkonsumsinya. Meski memiliki banyak kemudahan dan manfaat, tapi ternyata, penggunaan antibiotika yang berlebihan disenyalir memiliki efek samping yang bisa merugikan si pengkonsumsinya. Benarkah demikian?

Menurut dokter umum Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) Fajar Rudi Qimindra, antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Umumnya, antibiotika yang saat ini beredar dimasyarakat dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh.

Pria yang akrab disapa dr Qimi ini menjelaskan, antibiotika yang ditemukan pada tahun 1928 oleh Alexander Fleming ini, sekarang menghadapi masalah baru berupa kekebalan (resistansi), karena penggunaannya yang bebas, tidak sesuai dengan indikasi. Efek dari resistansi ini adalah dikhawatirkan obat tersebut sudah tidak lagi efektif saat terjadi infeksi yang membutuhkan antibiotika.

Dikatakannya, selain bahaya kekebalan, efek lain yang bisa terjadi adalah timbulnya reaksi alergi. Alergi adakah mekanisme pertahanan tubuh yang terlalu sensitif. Ia bersifat individual dan dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti debu, udang, telur, maupun obat-obatan sendiri. Alergi obat ini tidak tergantung pada dosisnya. Misalnya masyarakat menganggap yang mengandung 500 mg termasuk dosis tinggi dan dapat menimbulkan alergi dibanding 200 mg. Padahal setiap jenis antibiotika mempunyai dosis tersendiri yang spesifik.

Reaksi alergi yag timbul bisa bersifat ringan ataupun berat yang sampai mengancam jiwa. Yang ringan seperti gatal, mual, muntah, pusing dan sebagainya. Sedang reaksi yang berat disebut reaksi anafilaksis. Reaksi anafilaksis ini adalah timbulnya kondisi syok pada pasien yaitu dalam hitungan detik pasien langsung tidak sadar, tetapi begitu mendapat suntikan anti-nya ia akan sadar kembali.
Oleh karena itu diperlukan kerjasama yang baik antara pasien dan dokter.Seorang dokter akan menanyakan riwayat adanya alergi obat atau tidak,dan pasien wajib mencatat dan mengingat ada riwayat alergi apa saja.
Pencegahan reaksi alergi yang lain, biasanya akan dilakukan tes kulit (skin test) untuk antibiotika yang berbentuk suntikan/injeksi. Cara sejumlah kecil dosis obat diencerkan kemudian disuntikan di bawah kulit.

“Jika setelah dilakukan skin test si pasien mengidap alergi maka timbul akan bentol-bentol di sekitar tempat suntikan. Jika sudah demikian maka pemberian antibiotika tersebut tidak akan diberikan. Dengan kata lain, jika antibiotika tersebut tidak cocok pada tubuh pasien, maka si pasien harus mendapatkan obat lain sebagai penggantinya,” ujar Qimi.

Dikatakan lebih lanjut, efek samping antibiotika dari penggunaan jangka panjang yang dipikirkan adalah pada organ tubuh yang memecah/ mengeluarkan racunnya, yaitu ginjal. Perlu kewaspadaan apabila pada pasien tersebut sudah ada gejala kerusakan ginjal maka harus dipilih antibiotika yang sesuai.

Adapun jangka waktu penggunaan antibiotika ini sangat bervariasi, tergantung pada berat ringannya penyakit yang diderita. “Untuk infeksi kuman yang ringan, penggunaan selama lima hari saja sudah cukup,” kata pria yang sehari-hari tugas di rumah sakit di kawasan Jl Jend Sudirman Balikpapan Selatan ini.
Sebenarnya, ungkap Qimi, penggunaan antibiotika secara benar dan rasional memang harus diberikan. Rasional di sini maksudnya, adalah harus sesuai dengan indikasi penyakitnya, sesuai dosisnya, sesuai cara pemberiannya, dan tetap memperhatikan efek sampingnya. Sehingga diharapkan masyarakat menjadi rasional dan tidak berlebihan dalam menggunakan antibiotika sesuai apa yang dikampanyekan oleh WHO.

Berikut beberapa hal yang dianjurkan dr Qimi dalam mengkonsumsi antibiotika:
1. Sebaiknya jangan sembarangan minum antibiotik yang dibeli sendiri di apotek/toko obat.
2. Untuk pertolongan awal gejala demam, batuk, flu boleh saja minum obat penangkalnya, tetapi jangan mengandalkan antibiotik.
3. Selalu berkonsultasi dengan dokter untuk setiap penggunan antibiotik.
4. Tanyakan ke dokter Anda tentang cara minum, lama minum dan lain lain sehingga ada keterangan yang jelas.

“Bagaimana pun antibiotika adalah salah satu obat yang dapat digolongkan sebagai dalam pengawasan dokter. Sehingga resistensi yang terjadi karena penggunaan yang tidak terkontrol benar-benar akan merugikan kita semua,” tegas Qimi.

Kaltim Post , 26 Januari 2008


Berlangganan Artikel Gratis

Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, silahkan isi alamat email Anda untuk berlangganan GRATIS artikel konsultasi Kesehatan melalui email. Masukkan alamat email anda, kemudian tekan tombol subscribe:

Related posts:

  1. Penggunaan ANTIBIOTIK Yang Rasional dan Benar

Silakan Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan saya pada website atau blog Anda tanpa dikenakan biaya / GRATIS, selama:
  1. Anda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan tulisan.
  2. Anda harus mencantumkan 'tentang penulis' di bagian bawah artikel, dan memuat link aktif menuju http://konsultasikesehatan.net atau http://fajarqimi.com

2 Comments Comments For This Post I'd Love to Hear Yours!

  1. test comment theme baru

    [Reply]

  2. mama hamdi says:

    slmt sore, dok, saya mempunyai putra skrang berusia 2 thn. pada usia 3 minggu bagian perut sebelah kiri ada benjolan sebesar telur puyuh.pada usia 2 bulan benjolan itu hilang tapi biji zakarnya bengkak ,kalau putra saya menangis,batuk & byk gerak bengkaknya timbul,tapi dia tidak merasa sakit seperti keponakan saya yang sekarang sdh dioperasi.sekarang anak saya sudah bisa berjalan,dan sangat aktif.saya tidak tega melihat biji zakarnya sering bengkak,riwayat keluarga suami juga punya penyakit serupa.kalau putra saya batuk seperti ada bunyi cairan dibiji zakarnya.pertanyaan saya: 1.apakah putra saya terkena hernia & itu penyakit keturunan?
    2. mengapa anak saya tidak merasa sakit&bila kakinya keatas diangkat bengkak pada biji zakarnya pelen2 hilang?
    3.apakah ada pengobatan alternatif lain selain dioperasi?
    4. apabila harus dioperasi pada usia berapa anak saya harus operasi?
    5. berapakah biaya operasi mengingat kondisi ekonomi kami tidak memungkinkan?
    mohon jawabannya,terimakasih.

    3.

    [Reply]

Leave a Comment Here's Your Chance to Be Heard!