Jika Pembaca baru berkunjung, mungkin anda ingin berlangganan GRATIS RSS feed atau dengan Email untuk mendapatkan artikel kesehatan terbaru. Thanks for visiting!
MEMANG penyembuhan penyakit dengan antibiotik sering digunakan masyarakat. Ini disebabkan masyarakat begitu mudah mendapatkan antibiotik di pasaran. Saat terserang flu atau peradangan, orang dengan mudah mengobati dirinya sendiri dengan membeli antibiotik.
Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotika saat ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh.
Menurut dr Fajar Rudy Qimindra dari Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB), antibiotika yang ditemukan pada 1928 oleh Alexander Fleming ini, sekarang menghadapi masalah baru berupa kekebalan (resistansi). Karena penggunaannya yang bebas dan tidak sesuai dengan indikasi, sehingga efek dari resistansi ini adalah dikhawatirkan obat tersebut sudah tidak lagi efektif saat terjadi infeksi yang membutuhkan antibiotika.
Dikatakannya, selain bahaya kekebalan, efek lain yang bisa terjadi adalah timbulnya reaksi alergi. Alergi adakah mekanisme pertahanan tubuh yang terlalu sensitif. Ia bersifat individual (perseorangan) dan dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti debu, udang, telur, maupun obat-obatan sendiri. Alergi obat ini tidak tergantung pada dosisnya. Misalnya masyarakat menganggap yang mengandung 500 mg termasuk dosis tinggi dan dapat menimbulkan alergi dibanding 200 mg. Padahal setiap jenis antibiotika mempunyai dosis tersendiri yang spesifik.
Reaksi alergi yag timbul bisa bersifat ringan ataupun berat yang sampai mengancam jiwa. Yang ringan seperti gatal, mual, muntah, pusing dan sebagainya. Sedang reaksi yang berat disebut reaksi anafilaksis. Reaksi anafilaksis ini adalah timbulnya kondisi syok pada pasien, yaitu dalam hitungan detik pasien bisa langsung tidak sadar, tetapi begitu mendapat suntikan anti-nya ia akan sadar kembali.
Oleh karena itu diperlukan kerjasama yang baik antara pasien dan dokter.Seorang dokter akan menanyakan riwayat adanya alergi obat atau tidak,dan pasien wajib mencatat dan mengingat ada riwayat alergi apa saja.
Pencegahan reaksi alergi yang lain, biasanya akan dilakukan tes kulit (skin test) untuk antibiotika yang berbentuk suntikan/injeksi. Cara sejumlah kecil dosis obat diencerkan kemudian disuntikkan di bawah kulit.
“Jika setelah dilakukan skin test si pasien mengidap alergi, maka timbul akan bentol-bentol di sekitar tempat suntikan. Jika sudah demikian maka pemberian antibiotika tersebut tidak akan diberikan. Dengan kata lain, jika antibiotika tersebut tidak cocok pada tubuh pasien, maka si pasien harus mendapatkan obat lain sebagai penggantinya,” ujar Qimi.
Dikatakan lebih lanjut, efek samping antibiotika dari penggunaan jangka panjang yang dipikirkan adalah pada organ tubuh yang memecah/mengeluarkan racunnya, yaitu ginjal. Perlu kewaspadaan apabila pada pasien tersebut sudah ada gejala kerusakan ginjal maka harus dipilih antibiotika yang sesuai.
Adapun jangka waktu penggunaan antibiotika ini sangat bervariasi, tergantung pada berat ringannya penyakit yang diderita.
“Untuk infeksi kuman yang ringan, penggunaan selama tiga sampai lima hari saja biasanya sudah cukup,” kata pria yang sehari-hari tugas di rumah sakit di kawasan Jl Jend Sudirman Balikpapan Selatan ini.
Sebenarnya, ungkap Qimi, penggunaan antibiotika secara benar dan rasional memang harus diberikan. Rasional di sini maksudnya, adalah harus sesuai dengan indikasi penyakitnya, sesuai dosisnya, sesuai cara pemberiannya, dan tetap memperhatikan efek sampingnya. Sehingga diharapkan masyarakat menjadi rasional dan tidak berlebihan dalam menggunakan antibiotika sesuai apa yang dikampanyekan oleh Badan kesehatan dunia,WHO.
Beberapa hal yang bisa dianjurkan dalam mengonsumsi antibiotik, antara lain sebaiknya jangan sembarangan minum antibiotika yang dibeli sendiri di apotek atau toko obat; untuk pertolongan awal gejala demam, batuk, flu boleh saja minum obat penangkalnya, tetapi jangan mengandalkan antibiotik; selalu berkonsultasi dengan dokter untuk setiap penggunaan antibiotika, dan tanyakan ke dokter tentang cara minum, lama minum dan lain-lain sehingga ada kejelasan.
“Bagaimana pun antibiotika adalah salah satu obat yang dapat digolongkan sebagai dalam pengawasan dokter. Sehingga resistensi yang terjadi karena penggunaan yang tidak terkontrol benar-benar bisa diminimalkan,” tegas Qimi.(fir)
Postingan ini merupakan edisi pertama setelah ganti theme yang baru. Jadi mohon maaf, apabila blog konsultasi kesehatan ini masih acak-acakan.
dikutip dari harian Kaltim Post Balikpapan Rabu, 23 Juli 2008
- Anda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan tulisan.
- Anda harus mencantumkan 'tentang penulis' di bagian bawah artikel, dan memuat link aktif menuju http://konsultasikesehatan.net atau http://fajarqimi.com














Twitter Updates

halo dr.Fajar.. Hihihihihih… Lama gak ksini
Iya biasanya poada beli di apotek trus gak paham kalau bakal ada efek smpingnya
[Reply]
qimindra Reply:
July 27th, 2009 at 8:24 am
Mas Ardy:..itulah kenyataan di masyarakat….kita tidak boleh menyerah..semangat
[Reply]
Wah antibiotik masih banyak di pasaran toko obat warung2 gimana neh
[Reply]
qimindra Reply:
July 27th, 2009 at 9:38 am
ya..Pak sesuai hukum pasar..ada permintaan ada penawaran.
[Reply]
Mau Tanya Dok.
Saya Sering mengalami Flu ( Bersin2)
terkadang hampir setiap hari atau 2 jam sekali.
di saat tdk melakukan aktivitas.apakah Flu ini besifat alergi atau yang lainya.
terima kasih
[Reply]
qimindra Reply:
July 27th, 2009 at 9:41 am
salah satu tanda bersin bersifat alergik adalah bersinnya lebih dari 3 kali berturutan..kemungkinan besar flu yang bersifat alergik.
silakan liat di blog saya yang lain di :
http://fajarqimi.com
[Reply]
dok,,, informasi tntang pnggunaan antibiotika tu yg ngasih dokter doang ap playan farmasi jg perlu ngasih info tntang itu dok???
[Reply]
mau tanya dok…
apa efek nya apabila kita mengganti penggunaan antibiotik dalam masa pengobatan..??
apabila kita mo mengganti suatu produk anti biotik satu dengan yg anti biotik yg lain masih dalam masa pengobata….kira2 waktu yg tepat itu kapan ya…apakah kita langsung ganti saja..ato emang ada cara lain untuk menghidari kekebalan terhadap anti biotik tersebut…
thanks
[Reply]
cre dr….
Dyn mw bertanya,
pa penggunaan antibiotik tu baik ntu pnyakit2x yg sdah meradang??…..
tas jwbn a, makasih….^_^
[Reply]
blh ngga dok,sy mnta protap pnggunaan antibiotik sesua jenis penyakit & jenis kumannya.
[Reply]
sy lbih memilih untuk tidak menggunakan antibiotik untuk anak sy,apakah hal itu bnar?misal disaat flu disertai pnas atau batuk sy cuma memberi dia parcetmol atau baby cough aja.trims
[Reply]
qimindra Reply:
January 27th, 2010 at 9:32 am
Betul Bu. Tetap selektif dalam penggunaaan AB memang diperlukan. tentu ada petunjuk dokter juga.
Semoga keluarga sehat2 selalu.
Wassalam,
QIMI
[Reply]
Mo tanya dok.. anak saya sakit pilek lalu cuman saya kasih madu. Tahu-tahu dari telinganya keluar cairan dan anak saya merasa sakit di telinganya. Badan nya juga panas, lalu saya periksakan ke dokter. Dokter bilang itu otitis atau infeksi gara-gara pileknya. Setelah itu dikasih antibiotik dan puyer. Puyernya saya minumkan.. antibiotiknya enggak. Setelah 2 hari telinganya yang kiri membaik, tyt gantian yang kanan.. dan badannya masih anget. Lalu antibiotiknya saya berikan ke anak saya. Soalnya udah panas hampir 3 hari. Dan sekarang udah turun panasnya. Menurut dokter tindakan saya salah tidak memberikan antibiotik itu dan apa sekarang antibiotiknya harus dihabiskan.. kemarin, karena anak saya sudah tidur sore, obatnya kelewatan satu kali, jadi gimana dok? Mkasih sebelumnya…
[Reply]
qimindra Reply:
March 5th, 2010 at 7:29 am
Ikuti saja saran Dokter, Pak. Apalagi ada tanda2 infeksinya. Antibiotoka memang harus dihabiskan sesuai dengan dosisnya.
[Reply]